-
The Pool Session. Go tryscuba with @divemag_indo. #mytubo #divemag #priska #diving
-
The sand and the fish. #mytubo #diving #gorontalo #indonesia #frogfish #priska
-
Fierce. #mytubo #diving #gorontalo #indonesia #lionfish #priska
-
Ocean with sharks might be horrifying. But a silent ocean? It’s the most horrifying one.
(via sharks-ahoy)
Posted on December 21, 2011 via The Seablog with 388 notes
Source: theseablog
-
WWF-MarineBuddies Reef Check Ujung Kulon (July 21 - 24, 2011)
Kamis, 21 Juli 2011
Jam di dinding menunjukkan pukul 19.00 WIB. Kalau sesuai rundown, seharusnya semua peserta sudah kumpul. Namun masih ada beberapa gelintir yang belum datang, sementara lobby Kantor WWF-Indonesia Mega Kuningan sudah mulai penuh dengan barang-barang peserta Reef Check Ujung Kulon.
Akhirnya setelah menunggu peserta terakhir tiba (*poke Chusen*), kami dinyatakan siap berangkat. Gears dan perlengkapan lainnya mulai dibagi-bagi ke dalam 2 elf, diiringi masuknya para peserta. Check dan recheck, semua sudah masuk ke dalam mobil. Time to go.
Tepat pukul 20:45 kami meninggalkan kawasan Mega Kuningan menuju Tol Merak untuk langsung menuju ke Ujung Kulon. Setelah mengarahkan supir untuk menuju tol tersebut, ternyata saya dihadapkan pada kenyataan bahwa… Supirnya ngga tau jalan! Jreng jreng jrenggg… Padahal saya udah rencana banget mau tidur selama perjalanan yang diperkirakan akan memakan waktu kurang lebih 8 jam. Well, what more can I do? Akhirnya terpaksa deh buka mata selebar-lebarnya demi membantu sang supir mencari jalan, padahal saya juga kurang tahu jalan menuju Ujung Kulon karena ini pertama kalinya saya akan ke sana. Beruntung ada satu peserta yang memiliki kantor di Cilegon, jadi sepertiga perjalanan ke sana dibantu dibimbing olehnya (thanks, Mas Gita Dimarsandy!). Funny thing is kami berada di satu mobil, tempat duduk kami berjarak kurang dari 2 meter, tapi kami berkomunikasi via chat messenger, haha.
Jumat, 22 Juli 2011
Hari telah berganti, tapi perjalanan kami menuju Ujung Kulon masih panjang. Berbekal kenekatan (dan kesotoyan) kami mengikuti petunjuk-petunjuk ke Tanjung Lesung dan Pulau Umang. Tapi perjalanan kami merambah daerah pedalaman, naik-turun lembah, melalui jalur-jalur berbatu, akhirnya mengantarkan kami ke daerah Sumur. Di sana kami bertemu dengan Bang Andre Crespo, salah satu staff WWF di kantor Ujung Kulon, yang juga merupakan expertise kami selama berkegiatan di Ujung Kulon.
Sedikit mengenai daerah yang akan dikunjungi di Ujung Kulon dapat dilihat di gambar di bawah ini:

Perjalanan kami belum berakhir di sana. Masih ada 2 jam perjalanan melalui jalan tanah berbatu untuk mencapai Paniis. Karena udah ada Bang Andre, tadinya saya berencana untuk tidur, tapi ternyata harapan saya luntur… Jalanan yang begitu bumpy membuat saya mengurungkan niat untuk tidur – well, actually karena kejeduk terus-terusan sih, haha. Beside, ternyata malah si Bang Andre yang duluan tidur. Lah kalo kita berdua tidur nanti siapa yang ngecek jalan? :D
Jam di telepon genggam saya menujukkan pukul 04:15 WIB saat kami akhirnya mencapai daerah Paniis. Tempat singgah yang menjadi tempat beristirahat pertama kami ini berada di Desa Taman Jaya, Kecamatan Sumur. Daerah ini berada di pinggir Pulau Jawa, tapi belum sampai ke ujung terbaratnya.
Di Paniis, kami disambut oleh pemilik homestay tempat kami menginap. Segera setelah menurunkan barang-barang dan membagi kamar tidur, para peserta langsung beristirahat karena jam 07:00 WIB kami akan langsung melanjutkan kegiatan kami.
Walaupun waktu istirahat yang ada sebegitu singkatnya, semua peserta berhasil bangun danbersiap-siap tepat pada waktunya. Sekitar pukul 07:30 semua sudah selesai sarapan dan sudah siap dengan peralatan masing-masing. Kami berjalan menuju pinggir pantai yang hanya berjarak kurang lebih 20 meter dari homestay. Sebelum naik ke perahu, kami berkumpul terlebih dahulu di sebuah lapangan, di sana kami dibariskan dalam sebuah lingkaran, disuruh jongkok, push-up dan dimarah-marahin sama kakak-kakak senior… Eh… Kami berkumpul di lapangan, lalu berkenalan dengan kepala desa setempat, perwakilan dari Balai Taman Nasional, perwakilan dari kelompok Paniis Lestari sekaligus membuka acara kami di sana.
Selesai berkenalan, kami melakukan simulasi reef check di darat, sebagai persiapan sebelum akhirnya menceburkan diri kami ke laut. Peserta dibagi ke dalam dua tim dengan leader masing-masing Bapak Batara I. Sibarani dan Bapak Dwi Tjandra. Di dalam tim sendiri, peserta dibagi lagi ke dalam beberapa kelompok, di mana per kelompok terdiri dari 2 orang yang akan bersama-sama mencatat data ikan, invertebrata atau substrat. Setelah simulasi selesai, trainer kami (Bapak Adhitya Wardana) mereview hasil catatan kami dan menunjukkan kepada kami mana hasil pendataan yang benar dan mana yang salah. 10 menit kemudian, semua peserta sudah menaiki kapal dan kapal pun berangkat menuju Pulau Badul. Tidak sampai setengah jam, kapal sudah menghentikan mesin. Lokasi penyelaman pertama mengambil tempat di bagian belakang Pulau Badul. Di sini kami akan melakukan simulasi pendataan bawah air. Setelah briefing oleh trainer dan guide selesai, peserta langsung menyiapkan peralatan masing-masing dan bersiap-siap untuk menyelam. Saya dan trainer turun duluan untuk memasang tali transek sebagai batasan pengukuran yang akan dilaksanakan peserta. Ga nyangka, ternyata mengulur tali sejauh 100 meter ternyata jauh juga yah! Selesai mengulur tali, kami menyebarkan gambar-gambar sebagai bahan identifikasi peserta, dan merampungkan tugas kami dengan mengembangkan diver’s buoy di atas titik pencatatan pertama sebagai tanda start bagi peserta.

1 jam berlalu dan para peserta mulai bermunculan di permukaan satu per satu. Teriknya matahari membuat semua segera menaiki kapal dan minta makan (apa hubungannya coba?). Dalam waktu singkat, nasi bungkus yang menjadi makan siang kami sudah habis tersantap. Dive tanks untuk sesi penyelaman kedua sudah siap dipasang, namun kami masih perlu menunggu sekitar 1 jam sebelum kembali menyelam. Di bagian depan kapal, para peserta mengisi waktu dengan bermain sambung-sambungan lagu dan pleset-plesetan kata, sementara grup belakang mengisi waktu dengan… Makan snack dan tidur! XD
Matahari yang semakin bergerak ke ufuk barat mengingatkan kami untuk segera kembali menceburkan diri ke dalam air. Akhirnya, tiba juga waktunya untuk melakukan pendataan yang sebenarnya! Kali ini kami melakukan penyelaman di bagian depan Pulau Badul, sama seperti saat simulasi, peserta dibagi ke dalam 2 tim, satu akan melakukan pendataan di perairan dangkal (3 - 6 meter) dan yang lain di perairan dalam (6 - 12 meter). Segera setelah tali transek dan marker ditambatkan, semua peserta turun bersama grup masing-masing dan memulai pendataan.
Di Pulau Badul, di kedalaman 5-8 meter, karangnya cukup rapat, bervariasi antara hard coral dan soft coral. Namun di daerah yang lebih dalam, kerapatannya mulai berkurang dan dasarnya banyak ditutupi oleh pasir.


70 menit berlalu dan selesailah sudah pendataan yang kami lakukan. Matahari sudah semakin tenggelam. Warnanya yang keemasan mengantar kepulangan kami ke Paniis. Setibanya di Paniis, kami langsung turun dan membawa barang masing-masing, foto-foto, baru kembali ke homestay. Berhubung yang diving banyak tapi kamar mandinya dan juga selang air untuk membersihkan alat terbatas, maka dibukalah jasa “gear wash” yang dipelopori oleh Mas Kingkong, Mas Sigit Heru Prasetya dan saya. Semua gears dipool dalam satu baskom, sisanya pada antri nunggu giliran alatnya dibersihin, hehe. Sayang sekali, pada saat akhirnya giliran alat saya dicuci, ditemukanlah kenyataan bahwa salah satu dump valve BCD saya patah! Hikshikshiks…
Acara berlanjut ke mandi, makan malam dan, yang ditunggu-tunggu: ujian identifikasi tertulis! Trainer kami emang ga kira-kira kejamnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi dia masih tega menyiksa kami memandangi 50 gambar ikan, 53 gambar invertebrata dan 100 gambar berbagai jenis karang. Pukul 10 ujian baru selesai, dan hanya satu yang berhasil lolos dengan gemilang. (Selamat ya, Sigit!)
Ujian tadi menutup kegiatan kami. Project leader yang baik hati tidak lupa mengingatkan (setengah melotot), bahwa keesokan harinya kami perlu bangun lebih pagi karena kami akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Peucang, yang berjarak kira-kira 2 jam perjalanan dengan kapal dari tempat kami saat itu. So, malam pertama dan terakhir kami di Paniis selesai sudah, diiringi dengan kehebohan untuk membereskan peralatan dan bawaan masing-masing.
Sabtu, 23 Juli 2011
Pukul 06:00 WIB. Bunyi alarm bersahutan dari sejumlah telepon genggam mengalahkan suara kokokan ayam yang berusaha membangunkan kami. Wangi nasi goring, petai rebus dan sejumlah masakan rumah lainnya merebak ke sekeliling homestay dan berhasil membangunkan kami semua dari tidur kami yang lelap. Semua peserta langsung makan, membersihkan diri, membereskan barang-barang dan mempersiapkan diri masing-masing untuk segera berangkat. Pukul 07:00 WIB, semua barang telah diangkut ke pinggir pantai dan kami semua sudah duduk cantik menanti kapal yang akan membawa kami menyeberang ke seberang lautan.
Dua jam kemudian… Kami masih duduk di tempat yang sama! Haha.. Kalau di kartun-kartun, mungkin gambarnya tetep sama, cuma batu-batu di sekitarnya udah ada tambahan lumut, rambut berubah memutih dan yang cowo-cowo jadi ada janggut panjangnya. XD Ternyata kapal yang akan kami naiki mengalami gangguan teknis, sempat mogok mesinnya – mungkin karena kami berduapuluh berat banget kali ya, jadi dia bohwat. Tapi akhirnya kapal dinyatakan aman dan safe untuk dinaiki. Maka dimulailah ritual angkut-angkut barang – dari gears, tas baju, makanan, galon air mineral, tank, kompresor – dari pinggir pantai ke atas kapal.
Karena waktu yang sudah semakin siang, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan kegiatan, yaitu pencatatan data tahap dua. Satu setengah jam perjalanan mengantarkan kami ke Selat Panaitan. Peserta kembali dibagi ke dalam 2 tim yang akan merecord data di dua daerah dengan kedalaman berbeda. Spot penyelaman kami bernama Legon Lantah, di sini tidak banyak terdapat terumbu karang, karena posisi lokasinya yang dekat dengan muara sungai dari Panaitan. Namun demikian komposisi hard coral dan soft coral tidak kalah indahnya, bahkan ditemukan banyak parrotfish, butterflyfish and even a moray eel!Penyelaman ini selesai dalam waktu 65 menit. Lalu semua peserta kembali naik ke atas kapal, menikmati makan siang seraya kapal berjalan menuju ke spot kedua penyelaman kami.

Di spot kedua ini, kami tidak melakukan pengambilan data, ini waktunya kami melakukan fun-dive! Bertempat di Karang Careuh, penyelaman kedua ini sungguh menantang adrenalin. Why? Karena begitu turun dari kapal, kami sudah ditantang oleh arus yang lumayan kencang, yang membuat kami ngga sampai-sampai ke spot, sampai akhirnya kami ditarik oleh kapal dengan menggunakan tali dan pelampung. Seru! :D
Sebelum descending, kami sempat bertemu dengan sebuah ubur-ubur sebesar telapak tangan,sayangnya kami ngga yakin ini ubur-ubur cassiopea seperti yang ada di Danau Kakaban sana, jadi ngga ada yang berani megang. Deep down, area di Karang Careuh ini luar biasa, selain karena konturnya yang berbeda dari spot lainnya (berupa wall/dinding), terumbu karang di sini ada yang merupakan terumbu karang endemik/khas daerah wall. Di daerah ini juga banyak terdapat ikan-ikan dari berbagai jenis dan kami juga bertemu dengan moray eel dan penyu, we’re so lucky!Pukul 17:00 WIB semua kegiatan di laut selesai, dan kapal segera mengantar kami ke Pulau Peucang. Di pulau yang agak terpencil ini, kami tinggal di penginapan milik Balai Taman Nasional. Don’t mind looking at your handphones, karena di pulau ini, mungkin hanya sinyal byRu yang bisa terdeteksi. Sisanya? Tenggelam di laut! :p

Seperti biasa, setelah nyilem dan merapat, semua berbondong-bondong mencuci alat ke sumber air terdekat, lalu jemur-jemur alat, dilanjutkan dengan mandiii. Sesudah semuanya wangi, ini saatnya makan malam! So, kami berangkat dari kamar menuju ke saung tempat kami makan malam.

Perlu diketahui, di Pulau Peucang ini, kondisi alamnya masih dibiarkan natural. Hewan-hewan yang ada di pulau ini tidak dideportasi ke pulau lain, tapi dibiarkan tinggal di sana.
Dari rusa, monyet berekor panjang, babi, biawak dan banteng, semua masih ada berkeliaran di pulau ini. Ini yang menjadi nilai lebih pulau ini, bagi saya, karena di sini saya benar-benar merasakan rasanya bisa menyatu dengan alam.
Tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu, berjalanan di atas jalan setapak yang masih asli tertutup pasir putih, menikmati suara debur ombak yang pecah di pantai dan angin malam yang bertiup lembut, memandangi bulan dan bintang yang berkilauan, plus bermain bersama hewan-hewan yang datang dan pergi (penasaran sama kami sepertinya) – what else would I ask? :)
Di tempat makan malam, kami berkenalan dengan petugas Balai Taman Nasional Ujung Kulon yang tinggal di Pulau Peucang. Di sana kami juga berkenalan dengan para finalis Kakak-Teteh Pandeglang 2011 yang juga sedang melaksanakan kegiatan. Kami saling berkenalan dan tak lupa memperkenalkan marinebuddies serta reef check kepada semua orang yang berada di tempat itu. Acara perkenalan berlangsung selama kurang-lebih satu jam, sampai akhirnya makan malam kami siap dihidangkan.
Ternyata, makan malam tidak menjadi acara terakhir kami. Trainer kejam nan dahsyat yang dikirimkan Reef Check masih tega menyiksa kami untuk melakukan ujian kedua. Suasana makan malam yang tadinya ramai oleh senda gurau dan obrolan ringan mendadak sunyi karena semua peserta sibuk menatap layar yang menampilkan soal ujian kami. Detik demi detik berjalan dan berlalulah 2 jam yang terasa panjang. Di ujian kali ini sudah lebih banyak peserta yang lulus dengan nilai yang lebih gemilang dibanding malam sebelumnya. Namun karena hari berikut adalah hari terakhir kami di Ujung Kulon, maka bagi yang belum lulus, diadakan her – saat itu juga!! – yang akhirnya selesai jam 03:00 AM dini hari. Nah, ini trainernya baik apa kejam coba..? :D
Minggu, 24 Juli 2011
Minggu. Sunday. Hari terakhir. Ngga kerasa, 3 hari kebersamaan akan segera berakhir di sini. Pagi-pagi bangun dengan perasaan sedikit berantakan, hari ini akan pisah sama temen-temen semuanya, hikshiks…
To value our time left, kami ga buang-buang waktu, kami segera makan pagi dan bersiap-siap untuk trekking ke Tanjung Layar. It takes 20 minutes to reach the beach, lalu kami diantar ke pinggir pantai dengan speedboat kecil. Di sini kami disambut oleh papan kayu bertuliskan “Taman Nasional Ujung Kulon, Warisan Dunia – World Heritage”. It’s true, UNESCO menobatkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai world heritage di tahun 1992.


Dari pantai, kami harus berjalan sekitar 30 menit menuju tempat tujuan kami, Tanjung Layar. Jalan setapak yang kami lalui dikelilingi pohon-pohon tinggi yang berumur ratusan tahun, di mana banyak hewan seperti banteng, ayam hutan, babi rusa dan burung kasuari berlindung di dalamnya. 10 menit di awal perjalanan kami, kami tiba di “gerbang selamat datang” yang merupakan gerbang alami yang tersusun dari akar pohon.
15 menit kemudian, setelah menaiki tangga yang nampaknya tiada akhir, kami tiba di reruntuhan mercusuar. Dari sini kami bisa melihat langsung ke arah tebing karang Tanjung Layar. The view is amazing! You can not not like it!Pemandangan yang menggiurkan mata membuat kami segera ingin berlari ke arah tebing tersebut. Kami segera menuruni lereng dan menuju ke sana. Di perjalanan yang singkat, kami melewati bangunan tua peninggalan zaman Belanda yang dulunya digunakan sebagai penjara bagi tawanan penjajah. Sesampainya kami di bawah, kami disambut oleh hamparan rumput hijau yang membentang luas. Rumputnya yang tebal dan lembut enak banget buat dijadikan alas tidur-tiduran. Buat tenda di sini pasti maknyos banget rasanya.
Di ujung padang rumput, berdirilah segerombolan batu karang yang berdiri tegak, semuanya menyusun formasi yang indah. Satu per satu dari kami mulai memanjat tebing karang itu dan tentu saja ga melewatkan kesempatan untuk foto-foto di sana. I can not describe is much better than any picture do, because what I did was just whispering, ‘This is great, this is great, this is great and I don’t want to go home.’ :D


Berdiri di atas tebing karang, melihat ombak-ombak besar pecah, menyaksikan lumba-lumba bermain di tepi tebing. It was so awesome. Nothing compares to it. Perjalanan panjang naik-turun yang melelahkan terbayar sudah. Semuanya memiliki pendapat yang sama: betah. Terbukti dari 30 menit di sana, ga ada yang bilang mau pulang, hehe.Tapi apa mau dikata, waktu juga yang mengharuskan kami segera kembali. Setelah puas berfoto di atas tebing dan berfoto di padang rumput, kami kembali menyusuri hutan untuk kembali ke pantai, naik kapal dan menuju Pulau Peucang. Kami tidak transit lama di Pulau Peucang, karena kami harus segera kembali ke Pulau Jawa. Pukul 15:00 WIB, kami tiba di pesisir dan segera melanjutkan perjalanan kami. Setelah menahan lapar sesiangan, pukul 19:00 WIB kami baru merapat di kantor WWF Ujung Kulon yang bertempat di daerah Carita. Satu jam kemudian kami bertolak kembali ke Jakarta. Ternyata perjalanan tidak selancar yang kami duga. Akibat perbaikan jalan dan padatnya volume kendaraan, tengah malam kami baru tiba di KM 68 Tol Serang – Jakarta.
Senin, 25 Juli 2011.
Jam saya menunjukkan pukul 02:00 AM saat akhirnya kami tiba di Kantor WWF-Indonesia Mega Kuningan. Semua peserta segera turun dari mobil, mengeluarkan barang-barang dan menyampaikan salam perpisahan satu sama lain.
With this, the Reef Check Ujung Kulon event is officialy end. Namun demikian, saya yakin, apa yang terjadi akan selalu menjadi kenangan indah yang ngga akan kami lupakan, dan apa yang telah kami lakukan tidak akan berhenti sampai di sini, because we are marinebuddies: we care, we act and we conserve!
Bubbles!
Priska Raharjo
-
WWF-MarineBuddies Reef Check Ujung Kulon (Part 1)
July 21-24, 2011
-
Taman Nasional Ujung Kulon (Ujung Kulon National Park)
Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan Taman Nasional ini juga memasukan wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil disekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang. Taman ini mempunyai luas sekitar 1,206 km² (443 km² diantaranya adalah laut), yang dimulai dari Tanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.
Taman Nasional ini menjadi Taman Nasional pertama yang diresmikan di Indonesia, dan juga sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1992, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.
Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknyaketika Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan.
Izin untuk masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di Kantor Pusat Taman Nasional di Kota Labuan atau Tamanjaya. Penginapan dapat diperoleh di Pulau Handeuleum dan Peucang.
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa Barat, serta merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan satwa langka lainnya.
Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.
Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di Taman Nasional Ujung Kulon mulai dikenal oleh para peneliti, pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820.
Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti; merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemiaspeciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata)dan berbagai macam jenis anggrek.
Satwa di Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amfibia, 240 jenis burung, 72 jenis insekta, 142 jenis ikan dan 33 jenis terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak Jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).
Taman Nasional Ujung Kulon merupakan obyek wisata alam yang menarik, dengan keindahan berbagai bentuk gejala dan keunikan alam berupa sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha, di Gunung Raksa Pulau Panaitan). Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain.
Jenis-jenis ikan yang menarik di Taman Nasional Ujung Kulon baik yang hidup di perairan laut maupun sungai antara lain ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok dan sumpit.
Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik yaitu ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak memangsanya (serangga kecil) yang berada di i daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air.


Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset nasional, dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.
Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis.Masyarakat yang bermukim di sekitar taman nasional yaitu suku Banten yang terkenal dengan kesenian debusnya. Masyarakat tersebut pengikut agama Islam, namun mereka masih mempertahankan kebiasaan-kebiasaan, tradisi, dan kebudayaan nenek moyang mereka.
Di dalam taman nasional, ada tempat-tempat yang dikeramatkan bagi kepentingan kepercayaan spiritual. Tempat yang paling terkenal sebagai tujuan ziarah adalah gua Sanghiang Sirah, yang terletak di ujung Barat semenanjung Ujung Kulon.Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
1. Tamanjaya dan Cibiuk
Pintu masuk utama dengan fasilitas, pusat informasi, wisma tamu, dermaga, sumber air panas.
2. Pantai Kalejetan, Karang Ranjang, Cibandawoh.
Fenomena gelombang laut selatan dan pantai berpasir tebal, pengamatan tumbuhan dan satwa.
3. Pulau Peucang.
Pantai pasir putih, terumbu karang, perairan laut yang biru jernih yang sangat ideal untuk kegiatan berenang, menyelam, memancing, snorkeling dan tempat ideal bagi pengamatan satwa satwa rusa di habitat alamnya.
4. Karang Copong, Citerjun, Cidaon, Ciujungkulon, Cibunar, Tanjung Layar, dan Ciramea.
Menjelajahi hutan, menyelusuri sungai, padang pengembalaan satwa, air terjun dan tempat peneluran penyu.
5. Pulau Handeuleum, Cigenter, Cihandeuleum.
Pengamatan satwa (banteng, babi hutan, rusa, jejak-jejak badak Jawa dan berbagai macam jenis burung), menyelusuri sungai di ekosistem hutan mangrove.
6. Pulau Panaitan, dan Gunung Raksa.
Menyelam, berselancar, dan wisata budaya/ sejarah.
Musim kunjungan terbaik: bulan April s/d September.
Cara pencapaian lokasi:
Jakarta - Serang (1 1/2 jam via jalan Tol), Serang - Pandeglang - Labuan (1 1/2 jam) atau Jakarta - Cilegon (2 jam via jalan Tol), Cilegon - Labuan (1 jam) atau Bogor - Rangkasbitung - Pandeglang - Labuan (4 jam).
Labuan - Sumur (2 jam), Sumur - Pulau Peucang (1 jam dengan kapal motor nelayan) atau Labuan - Pulau Peucang (4 jam dengan kapal motor nelayan).Kantor:
Jl. Perintis Kemerdekaan No. 51, Labuan, Pandeglang 42264
Telp.: (0253) 801731Fax: (0253) 804651
E-mail: btnuk@cilegon.wasantara.net.idDinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1980
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 284/ Kpts-II/92, luas 122.956 hektar
Letak Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
Temperatur udara 25° - 30° C
Curah hujan rata-rata 3.200 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 - 608meter dpl
Letak geografis 6°30’ - 6°52’ LS, 102°02’ - 105°37’ BTSumber:
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_ujungkulon.htm
-
Go Against Bullying & Stereotyping!
A 15 year old girl holds hands with her 1 year old son.
People call her a slut. No one knows she was raped at 13.People call another girl fat. No one knows she has a serious disease causing her to be over weight.
People call an old man ugly. No one knew he had a serious injury to his face while fighting for our country in the war.
Re-post this if you are against bullying and stereotyping.
-
It’s really impossible to find someone who will never hurt you; so go on for the one who is WORTH ALL THE PAIN.




